Karena Muhammadiyah sudah memutuskan lebaran tanggal 12 Oktober, lebaran tahun ini mungkin berbeda hari bila NU tidak berhasil melihat bulan tanggal 1 Syawal pada 11 Oktober. Meski tak bareng, sama sekali tak ada yang harus disesalkan atau dipaksakan untuk lebaran pada hari bersamaan.
Tulisan ini juga tak hendak membahas perbedaan tersebut. Namun bandingkan laporan dua situs berita tentang pertemuan petinggi ormas Islam dan pemerintah berikut ini: “JK Minta Derajat NU Dinaikkan, Muhammadiyah Diturunkan” (http://www.detik.com/indexberita/indexfr.php) dan “Lebaran Bisa Beda, Toleransi Harus Dijaga” (http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0709/24/131431.htm).
Mengutip Hasyim Muzadi kedua media menuliskan dua hal yang bertolak belakang. Pada kompas.co.id ditulis: “Wapres menyarankan, derajat NU diturunkan sedikit, dan Muhammadiyah dinaikkan sedikit, sehingga ada cash and carry.”
Sementara pada detik.com tertulis: “Karena Wapres orang ekonomi, Wapres minta derajat Muhammadiyah diturunkan dan derajat NU dinaikkan. Jadi bisa cash and carry.”
Memang tidak mempengaruhi esensi berita atau merugikan pihak lain, namun kita harus mempertanyakan akurasi data para wartawan.
Belum lagi kutipan dari Menteri Agama Maftuh Basuni yang menggunakan bahasa daerah. “…Kalau sudah ada kesepakatan, jangan ada kemrocot (terjadi) lagi, “ tulis detik.com, sementara kompas.co.id menulis: “Kalau sudah ada kesepakatan, jangan lagi yang mrucut.”
Pada kutipan dari Mahtuh Basuni, saya menduga yang lebih benar cara menulisnya adalah kompas.co.id. Mrucut (bahasa Jawa) artinya lepas atau lolos dari pegangan. Saya menduga Basuni melafalkan mrucut dengan logat Surabaya sehingga terdengar mrocot, seperti kata “putih” yang dilafalkan menjadi “poteh”.
Lantas dari mana detik.com mendapatkan awalan “ke” pada kata “kemrocot”? Apa pula artinya?
Monday, September 24, 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)