Tuesday, April 24, 2007

Jaran eh... jiran

Sebelumnya perusahaan telekomunikasi Negeri Jiran, Telekom Malaysia juga telah menjadi pemilik mayoritas di PT Excelcomindo Pratama Tbk.

Kalimat itu adalah ekor pemberitaan tentang penguasaan Maxis, sebuah perusahaan asal Malaysia, atas saham Lippo Telecom yang dimuat situs berita detik.com (25/4).
Ada yang terasa kurang pas yaitu frasa Negeri Jiran. Saya semakin yakin banyak penulis yang tidak mengerti maksud frasa tersebut. Entah siapa yang memulai penggunaannya dalam kalimat berbahasa Indonesia, frasa tersebut sebenarnya untuk menggantikan frasa "negeri tetangga". Mungkin sekadar untuk variasi kata. Kata jiran berasal dari bahasa Arab yang memang berarti tetangga.

Ketidaktahuan banyak penulis Indonesia mengenai arti sebenarnya kata "jiran" terbukti dari penggunaannya yang hanya dipakai sebagai pengganti "kata" Malaysia. Saya belum pernah mengetahui kata itu dipakai untuk Brunei, Singapura, apalagi Papua Nugini dan Australia. Padahal mereka semua adalah negara tetangga kita.

Khusus tentang contoh pada kalimat di atas, setidaknya ada dua bukti bahwa penulisnya tidak tahu arti kata jiran. Petama, penulisan frasa dengan huruf besar. Jika penulis tahu arti kata jiran adalah "sekadar" tetangga, seharusnya menulis dengan huruf kecil. Berbeda dengan penulisan Negeri Gajah Putih atau Negeri Tirai Bambu yang merupakan julukan khusus untuk Thailand dan Cina.

Kedua, bila penulis mengerti arti kata tersebut, tentu akan menuliskannya seperti ini, " Sebelumnya, sebuah perusahaan telekomunikasi yang juga berasal dari negeri jiran ini, Telekom Malaysia juga telah ......" Posisi kalimat seperti "Sebelumnya, sebuah perusahaan telekomunikasi asal negeri yang dipimpin Abdullah Ahmad Badawi ini, Telekom Malaysia juga telah ....."

Atau ada sebab lain mengapa hanya Malaysia yang (sering) disebut sebagai negeri jiran?