Monday, March 12, 2007

Gelar Akademis dan Undangan Pernikahan

Baru saja saya menerima sebuah undangan resepsi pernikahan seorang rekan. Cetakannya bagus, ada peta detil, foto, doa-doa, dan ..... dua nama calon mempelai. Dua nama dengan masing-masing gelar akademis.

Sekilas tak ada yang salah dan mungkin memang tidak salah. Hanya saja, saya selalu risih setiap mendengar, melihat, dan membaca gelar-gelar akademis yang tidak pada tempatnya. Dalam pengumuman di tempat-tempat ibadah, rapat di rumah Pak RT atau kelurahan, undangan kenduri, sunatan, perkawinan, dan lain-lain begitu sering tertulis atau tersebut gelar-gelar akademis di depan atau belakang nama-nama itu.

Kadang-kadang saya bertanya, ini undangan perkawinan atau undangan diskusi ilmiah di kampus? Kalaupun undangan syukuran, yang paling masuk akal adalah syukuran wisuda atau penganugerahan gelar profesor atau guru besar.

Mengapa sih kita bangga sekali menempelkan gelar? Pendidikan formal yang dahulu sangat sulit didapat (kini juga masih sulit karena mahal) barangkali menjadi kontributor terbesar. Selain itu, tentu saja kebiasaan pamer. Daripada tidak ada yang dibanggakan, gelar bisa ditambahkan dalam penulisan nama.

Yang terakhir tentu saja terkait erat dengan kepercayaan diri. Dengan menambahkan gelar, banyak kekurangan setidaknya dianggap bisa ditambal. Meski untuk mendapatkan gelar, seseorang tidak harus benar-benar memenuhi kualifikasi persyaratannya. Bukankah banyak mahasiswa lulus dengan skripsi asal jadi? Nyontek juga tidak diharamkan waktu masih kuliah. Dengan beberapa juta gelar doktor bisa ditangan.

Saya jadi ingat, beberapa tahun lalu sebelum menikah, saya sempat memikirkan penulisan nama dalam undangan ini. Tentu saja saya tidak ingin menuliskan gelar sarjana di belakang nama saya. Hanya saja, bagaimana dengan nama pacar saya? Dengan sedikit penjelasan, dia pasti setuju untuk tak usah menuliskannya. Tapi bagaimana dengan calon mertua saya yang sudah membiayai kuliahnya yang mahal di sebuah fakultas mewah sebuah universitas swasta papan atas Jakarta?

Ah, beruntunglah saya. Persoalan itu tak datang pada saya, karena undangan pernikahan kami hanya berupa sms dan telepon kepada sedikit rekan dan handai taulan.
Jakarta, 13/2/07, 12:17